MagzNetwork

Penderitaan Rasulullah SAW siri-1

Dicatat oleh ozay wahid | 1/31/2009 08:33:00 PTG | | 1 ulasan »


Baihaqi memberitakan dari Abdullah bin Ja'far ra. katanya: Apabila Abu Thalib telah meninggal dunia, mulailah Nabi SAW diganggu dan ditentang secara terang-terangan. Satu peristiwa, beliau telah dihadang di jalanan oleh salah seorang pemuda jahat Quraisy, diraupnya tanah dan dilemparkan ke muka beliau, namun beliau tidak membalas apa pun.

Apabila beliau tiba di rumah, datang salah seorang puterinya, lalu membersihkan muka beliau dari tanah itu sambil menangis sedih melihat ayahnya diperlakukan orang seperti itu. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada puterinya itu: 'Wahai puteriku! Jangan engkau menangis begitu, Allah akan melindungi ayahmu!' beliau membujuk puterinya itu.
Beliau pernah berkata: Sebelum ini memang kaum Quraisy tidak berani membuat sesuatu seperti ini kepadaku, sehinggalah selepas Abu Thalib meninggal dunia, mulailah mereka menggangguku dan mengacau ketenteramanku. Dalam riwayat yang lain, beliau berkata kepadanya karena menyesali perbuatan jahat kaum Quraisy itu: Wahai paman! Alangkah segeranya mereka menggangguku sesudah engkau hilang dari mataku!
(Hilyatul Auliya 8:308; Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:134)

Thabarani telah memberitakan dari Al-Harits bin Al-Harits yang menceritakan peristiwa ini, katanya: Apabila aku melihat orang ramai berkumpul di situ, aku pun tergesa-gesa datang ke situ, menarik tangan ayahku yang menuntunku ketika itu, lalu aku bertanya kepada ayahku: 'Apa sebab orang ramai berkumpul di sini, ayah?' 'Mereka itu berkumpul untuk mengganggu si pemuda Quraisy yang menukar agama nenek-moyangnya!' jawab ayahku. Kami pun berhenti di situ melihat apa yang terjadi. Aku lihat Rasulullah SAW mengajak orang ramai untuk mengesakan Allah azzawajaila dan mempercayai dirinya sebagai Utusan Allah, tetapi aku lihat orang ramai mengejek-ngejek seruannya itu dan mengganggunya dengan berbagai cara sehinggalah sampai waktu tengah hari, maka mulailah orang bubar dari situ.

Kemudian aku lihat seorang wanita datang kepada beliau membawa air dan sehelai kain, lalu beliau menyambut tempat air itu dan minum darinya. Kemudian beliau mengambil wudhuk dari air itu, sedang wanita itu menuang air untuknya, dan ketika itu agak terbuka sedikit pangkal dada wanita itu. Sesudah selesai berwudhuk, beliau lalu mengangkat kepalanya seraya berkata kepada wanita itu: Puteriku! lain kali tutup rapat semua dadamu, dan jangan bimbang tentang ayahmu! Ada orang bertanya: Siapa dia wanita itu? jawab mereka: Itu Zainab, puterinya - radhiallahu anha. (Majma'uz-Zawa'id 6:21)

Dalam riwayat yang sama dari Manbat Al-Azdi, katanya: Pernah aku melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliah, sedang beliau menyeru orang kepada Islam, katanya: 'Wahai manusia sekaliani Ucapkanlah 'Laa llaaha lliallaah!' nanti kamu akan terselamat!' beliau menyeru berkali-kali kepada siapa saja yang beliau temui. Malangnya aku lihat, ada orang yang meludahi mukanya, ada yang melempar tanah dan kerikil ke mukanya, ada yang mencaci-makinya, sehingga ke waktu tengah hari.

Kemudian aku lihat ada seorang wanita datang kepadanya membawa sebuah kendi air, maka beliau lalu membasuh wajahnya dan tangannya seraya menenangkan perasaan wanita itu dengan berkata: Hai puteriku! Janganlah engkau bimbangkan ayahmu untuk diculik dan dibunuh ... ! Berkata Manbat: Aku bertanya: Siapa wanita itu? Jawab orangorang di situ: Dia itu Zainab, puteri Rasuluilah SAW dan wajahnya sungguh cantik.
(Majma'uz Zawa'id 6:21)

Pentingnya Mentaati Sunnah Rasulullah SAW

Dicatat oleh ozay wahid | 1/31/2009 08:32:00 PTG | | 1 ulasan »


Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, "Barangsiapa yang mentaatiku, maka dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka dia telah mendurhakai Allah. Begitu pula, barangsiapa yang mentaati petugasku, maka dia telah mentaatiku, dan barangsiapa mendurhakai petugasku, maka dia telah mendurhakaiku.' (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. lagi, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: 'Semua ummatku akan memasuki syurga kecuali yang enggan memasukinya. Siapa yang mentaatiku akan memasuki syurga, dan siapa yang mendurhakaiku, maka dialah orang yang enggan memasuki syurga.'(Riwayat Bukhari)

Jabir ra. bercerita, katanya: Suatu peristiwa datanglah beberapa Malaikat kepada Nabi SAW ketika beliau sedang tidur, lalu mereka berkata: Bahwa sesungguhnya teman kamu ini dapat diberikan beberapa perumpamaan, cobalah berikan perumpamaan baginya! Maka berkata yang satu: Dia ini sedang tidur. Yang lain berkata: Meskipun matanya tidur, namun hatinya tetap sadar! Lalu berkata pula Malaikat yang lain: Perumpamaan temanmu ini ialah perumpamaan seorang lelaki yang baru selesai membangun sebuah rumah, lalu dia pun mengadakan undangan makan, dan mengundang orang datang kepadanya. Jadi, sesiapa yang menerima undangan itu, dia akan memasuki rumah itu, dan dapatlah dia memakan dari makanan yang disediakan itu. Dan sesiapa yang menolak undangan itu, tidak akan memasuki rumah itu, dan tidak dapatlah dia memakan dari makanan yang disediakan di situ!

Kemudian berkata Malaikat yang mendengar perumpamaan itu: Jelaskanlah perkara ini kepadanya (Nabi Muhammad) supaya dia mengertinya! Lalu ada Malaikat yang berkata: Bukankah dia sedang tidur?! Jawab yang lain: Bukankah sudah aku katakan; matanya saja yang tidur, namun hatinya sadar (dapat menangkap maksud dari berita ini). Maka para Malaikat itu pun berkata: Rumah itu diibaratkan dengan 'Syurga', dan orang yang mengundang itu ialah 'Muhammad' itu sendiri. Tegasnya, siapa saja yang mentaati Muhammad, maka dia mentaati Allah. Dan siapa saja yang mendurhakai Muhammad, maka dia mendurhakai Allah. Dan Muhammad itu adalah penengah (di antara Allah) dengan manusia! (Riwayat Bukhari) Ad-Darimi juga mengeluarkan cerita yang sama dari Rabitah Al-jarasyi ra. dengan maksudnya yang sama (kitab: Al-Misykah, hal. 21)

Dari Abu Musa Al-Asy'ari ra. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: 'Hanyalah perumpamaanku dan perumpamaan apa yang diutus Allah kepadaku adalah perumpamaan seorang lelaki yang datang kepada suatu kaum, lalu dia berkata kepada mereka: Hai kaumku! Saya lihat dengan mataku sendiri, ada suatu bala tentara yang datang, dan saya adalah pemberi peringatan yang telanjang (dapat dimaksudkan: yang paling jujur), maka selamatkanlah diri kamu! Selamatkanlah! Kerana itu ada di antara kaumnya yang mentaatinya, maka dari sejak malam mereka telah keluar melarikan diri dengan secara teratur, hingga akhirnya mereka selamat. Ketika sekumpulan yang lain telah mendustakannya, dan mereka terus menetap di tempat mereka. Akhirnya, mereka sejak pagi buta telah diserang oleh bala tentara (musuh) itu, yang membinasakan mereka serta memukul bersih apa saja yang ada di hadapannya. Itulah dia perumpamaan siapa yang mentaatiku serta menuruti apa yang saya sampaikan kepadanya. Demikian pula perumpamaan siapa yang menderbakaiku serta mendustakan apa yang saya sampaikan kepadanya dari perkara kebenaran itu.' (Riwayat Darimi)

Razin telah membawa suatu berita dari Umar ra. yang dirafakkannya kepada Rasulullah SAW sabdanya: Aku sudah menanyakan Tuhanku tentang perselisihan para sahabatku sepeninggalku, lalu Allah mewahyukan kepadaku, katanya: Wahai Muhammad! Sesungguhnya semua para sahabatmu itu dalam pandanganku adalah umpama bintang-bintang di langit, setengah mereka lebih teguh dari setengah yang lain, namun bagi setiap satu darinya ada cahayanya yang tersendiri. Maka barangsiapa yang mengambil sesuatu dari apa yang ada pada diri mereka tanpa memandang pada perselisihan mereka itu, maka dia itu dalam pandanganku berada di atas kebenaran. Kemudian Nabi SAW pun berkata: Para sahabatku itu seumpama bintang-bintang maka siapa saja dari mereka yang kamu ikuti, kamu akan mendapat petunjuk. (Jam'ul-Fawa'id 2:201)

Dari Al-Irbadh bin Sariyah ra. yang menceritakan suatu peristiwa, katanya: Pada suatu hari Rasulullah SAW telah mengimami kami satu shalat, dan sesudah selesai shalat, beliau lalu menghadapkan wajahnya kepada kami serta menyampaikan suatu pidato yang sungguh berkesan sekali pada diri kami, sehingga bercucuranlah air mata kami dan gemetarlah segala urat perut kami. Sehabis pidato itu, telah bangun seorang lelaki berkata: Ya Rasulullah! Seolah-olah pidato ini adalah suatu pidato terakhir untuk mengucapkan selamat tinggal! Jadi, apakah yang patut engkau pesankan untuk kami?! jawab beliau: Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwa kepada Allah, selalu mendengar perintah dan mentaatinya, walaupun yang memerintah itu seorang hamba habsyi (yang hitam warna kulitnya). Kerana sesungguhnya, siapa saja yang hidup di antara kamu sesudahku nanti dia akan melihat perselisihan-perselisihan yang banyak. Maka ketika itu, hendaklah kamu berpegang teguh kepada perjalananku dan pejalanan para Khulafaur-Rasyidin yang sudah tertunjuk (oleh hidayatku), hendaklah kamu berpegang kuat dengannya, dan gigitlah dia dengan gigi geraham kamu. Berhati-hatilah kamu dengan mengada-adakan (hukum) yang baru, kerana setiap hukum yang diada-adakan itu adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu adalah sesat! (Riwayat Tarmidzy dan Abu Daud)

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra. telah merafakkan bicara ini kepada Nabi SAW sabdanya: Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan berada bersama-sama kamu. Tetapi aku mengingatkan kamu supaya mengikuti dua orang ini sepeninggalku. Lalu beliau menunjuk kepada Abu Bakar dan Umar radhiallahu-anhuma. Sambungnya lagi: Ambillah petunjuk yang diberikan Ammar, dan dengar apa yang dibicarakan Ibnu Mas'ud dan percayailah dia!(Riwayat Tarmidzy)

Dari Bilal bin Al-Haris Al-Muzani ra. bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: 'Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnat (jalan) dari sunnatku yang telah ditinggalkan orang sepeninggalku, maka baginya pahala seperti pahala-pahala orang yang mengamalkannya sesudah itu, tiada dikurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka (yang mengamalkannya itu). Dan barangsiapa yang mengadaadakan suatu bid'ah yang menyesatkan yang tiada diridhai Allah dan RasuINya, maka dia akan menanggung dosanya seperti dosadosa orang yang mengamalkannya, tiada dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa orang yang mengamalkannya.'(Riwayat Tarmidzy) Ibnu Majah juga meriwayatkan suatu Hadis yang serupa ini dari Katsir bin Abdullah bin Amru, dari bapanya, dari datuknya.

Dari Amru bin Auf ra. bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda: 'Sesungguhnya agama (Islam) itu akan kembali ke Hijaz, sebagaimana ular yang kembali ke dalam lobangnya. Lalu agama itu akan tertambat di Hijaz umpama tertambatnya unta-unta di puncak gunung. Sesungguhnya agama itu lahir asing (tidak dikenali orang), dan dia akan kembali asing seperti mula lahimya. Maka berbahagialah orang-orang asing itu (yakni kaum yang bukan Arab), kerana merekalah yang akan membetulkan apa yang dirusakkan manusia dari sunnatku sepeninggalku nanti."(Riwayat Tarmidzy)

Dari Abdullah bin Amru ra. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: 'Akan berlaku ke atas ummatku seperti mana yang berlaku ke atas kaum Bani Israel umpama sepasang sepatu, satu dengan yang lain, sampai terjadi di antara mereka orang yang mendatangi (melakukan zina) ibunya secara terang-terangan, demikian pula yang akan berlaku pada ummatku juga. Dan bahwasanya kaum Bani Israel akan terpecah-belah kepada tujuh puluh dua kaum, dan ummatku pula akan terpecah-belah kepada tujuh puluh tiga kaum, semuanya adalah di dalam neraka, kecuali satu kaum saja. Para sahabat bertanya: Siapa kaum itu, hai Rasulullah?! jawab beliau: kaum yang mengikutiku dan mengikuti para sahabatku!' (Riwayat Tarmidzy)


Pentingnya Sunnah Rasulullah SAW

Dicatat oleh ozay wahid | 1/29/2009 12:32:00 PG | | 0 ulasan »

Dari Anas bin Malik ra. katanya, Rasulullah SAW telah berkata 

kepadaku: 'Hai anakku! Jika engkau mampu tidak menyimpan 

dendam kepada orang lain sejak dari pagi sampai ke petangmu, 

hendaklah engkau kekalkan kelakuan itu! Kemudian beliau

menyambung pula: Hai anakku! Itulah perjalananku (sunnahku), 

dan barangsiapa yang menyukai sunnahku, maka dia telah 

menyukaiku, dan barangsiapa yang menyukaiku, dia akan berada 

denganku di dalam syurga! ' (Riwayat Tarmidzi)


Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi SAW yang berkata: "Barangsiapa 

yang berpegang dengan sunnahku, ketika merata kerusakan 

pada ummatku, maka baginya pahala seratus orang yang mati 

syahid". (Riwayat Baihaqi) Dalam riwayat Thabarani dari

Abu Hurairah ra. ada sedikit perbedaan, yaitu katanya: Baginya 

pahala orang yang mati syahid. (At-Targhib Wat-Tarhib 1: 44)


Thabarani dan Abu Nu'aim telah mengeluarkan sebuah Hadis 

marfuk yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW 

telah bersabda: Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam 

zaman kerusakan ummatku akan mendapat pahala orang yang mati

syahid. Hakim pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. juga bahwa 

Nabi SAW telah berkata: Orang yang berpegang kepada sunnahku 

dalam masa perselisihan diantara ummatku adalah seperti orang 

yang menggenggam bara api. (Kanzul Ummal 1: 47)


Dan Muslim pula meriwayatkan dari Anas ra. dari Rasulullah SAW 

katanya: Orang yang tidak suka kepada sunnahku, bukanlah dia 

dari golonganku! Demikian pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Asakir 

dari Ibnu Umar ra. cuma ada tambahan di permulaannya berbunyi: 

Barangsiapa yang berpegang kepada sunnahku, maka dia dari golonganku.


Kemudian Daraquthni pula mengeluarkan sebuah Hadis dari Siti 

Aisyah r.a. dari Nabi SAW katanya: Sesiapa yang berpegang kepada 

sunnahku akan memasuki syurga!


Dan dikeluarkan oleh As-Sajzi dari Anas ra. dari Nabi SAW 

katanya: Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia 

telah mengasihiku, dan siapa yang mengasihiku dia akan memasuki 

syurga bersama-sama aku!

 

Keadaan Lapar Nabi Muhammad SAW

Dicatat oleh ozay wahid | 1/29/2009 12:28:00 PG | | 0 ulasan »

Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu'man bin 

Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari 

makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya?

Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya 

mendapat kurma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!


Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu'man bin Basyir ra. 

katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa 

yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia 

berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian 

menanggung lapar, karena tidak ada makanan, 

kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari 

korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.


Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu'aim, Khatib, 

Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: 

Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang

bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: 

Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, 

apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar wahai Abu 

Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis 

sedih melihatkan keadaan beliau itu.  Beliau merasa kasihan 

melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! 

jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari 

kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di 

dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)


Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa 

keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing 

kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW 

memakannya - ataupun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan,

lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini 

karena tidak punya lampu.


Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya:

Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah:

Jika kami ada minyak ketika itu tentu kami utamakan untuk dimakan.

(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)


Abu Ya'la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya 

sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW 

tidak ada satu hari pun yang berlampu dan dapurnya pun tidak berasap. 

Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan.

(At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma'uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. 

dia berkata: Demi Allah hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, 

saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada 

anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW

tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah 

makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika 

ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan 

buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan

kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk 

sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya l

ampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: 

Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Kurma dan air saja,

itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi 

Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia 

mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah 

kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya!

Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: 

Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! 

Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. 

(At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)


Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang 

dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah 

sehingga beliau meninggal dunia. Di lain-lain versi: Tidak pernah kenyang 

keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga 

beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, 

dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.(Kanzul Ummal 4:38)


Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: 

Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan 

sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu 

mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. 

(At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)


Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, 

katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya 

sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, 

dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur 

selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. 

Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah 

SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau

meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang 

sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging 

panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)


Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah 

SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik 

di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. 

Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula

meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW 

mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka 

mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. 

Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, 

dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu.

(At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW 

membawa sepotong roti syair  yang kasar untuk dimakannya. Maka 

ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan

ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada 

tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: 

Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab:

 Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu,

sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau

memakannya dulu! (Majma'uz Zawa'id 10:312)


Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya:

Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada 

Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau 

mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama 

memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)


Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa'ad ra. dia berkata: Tidak pernah 

Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan 

menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia.

Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak 

yang dapat mengayak tepung? 

Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari 

sejak beliau diutus menjadi 

Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana 

kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: 

Mula-mula kami menumbuk gandum itu kemudian kami meniupnya 

sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah 

yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. 

(At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)


Tarmidzi memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali 

peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah 

SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu 

demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat 

kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. 

(At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)


Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para 

sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa

terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya 

pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang 

memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar 

dan telanjang di hari kiamat!

Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini,

kelak dia akan dihinakan di akhirat. 

Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, 

kelak dia akan dimuliakan di akhirat.'


Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: 

Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah 

kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab

apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan 

lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya! 

(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

 

Gurau dan Canda Rasulullah SAW

Dicatat oleh ozay wahid | 1/29/2009 12:17:00 PG | | 0 ulasan »

Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Baginda menerima hamba, orang buta, dan anak-anak. Baginda bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi Baginda tidak berkata kecuali yang benar saja.

Suatu hari seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata,
"Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta", katanya.
"Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta", kata Rasulullah SAW.
"Ia tidak mampu", kata perempuan itu. "Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta". "Ia tidak mampu". Para sahabat yang berada di situ berkata, "bukankah unta itu juga anak unta?"

Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu".
"Semoga suamimu yang dalam matanya putih", kata Rasulullah SAW.
Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya.

Suaminya bertanya dengan keheranan, "kenapa kamu ini?".
"Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih", kata istrinya menerangkan.

"Bukankah semua mata ada warna putih?" kata suaminya.

Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW,
"Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam syurga".

 "Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua". Perempuan itu lalu menangis.
Rasulullah menjelaskan, "tidakkah kamu membaca firman Allah ini,

Serta kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya".

Para sahabat Rasulullah SAW suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na'im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.

 

Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW

Dicatat oleh ozay wahid | 1/28/2009 11:51:00 PTG | | 0 ulasan »

Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata: Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.
Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.
Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.
Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.

Baginda tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.
Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)

 

12 KELOMPOK MANUSIA DIBANGKITKAN ALLAH SWT

Dicatat oleh ozay wahid | 1/28/2009 02:22:00 PTG | | 0 ulasan »

DIRIWAYATKAN bahawa Rasulullah s.a.w. menangis hingga membasahi

bajunya ketika ditanya oleh Mu’adz bin Jabbal mengenai maksud

firman Allah s.w.t.: “Iaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala,

 lalu kamu datang berkelompok-kelompok.”

Apabila ditanya punca baginda bersedih, Rasulullah bersabda:

“Engkau bertanya mengenai sesuatu yang dahsyat. Umatku akan

dikumpul dan dibangkitkan di hari kiamat dalam 12 kelompok.”

Kelompok pertama akan dibangkitkan dalam keadaan tanpa

tangan dan kaki, lalu terdengar suara Allah:“Mereka ini adalah

orang yang ketika didunia dulu senang mengganggu jirannya,

maka inilah balasannya dan nerakalah tempat baginya.”

Kelompok kedua (2) pula di bangkitkan dalam keadaan berbentuk

babi kerana ketika di dunia golongan ini malas seperti firman

Allah: “Celakalah! Mereka yang mengerjakan solat,

iaitu lalai dalam solatnya.”

Kelompok ketiga (3) dibangkitkan daripada kubur dalam keadaan

perut membesar seperti gunung, dengan didalamnya penuh

ular dan kala jengking kerana ketika di dunia mereka tidak membayar zakat.

Kelompok keempat (4) pula dibangkitkan daripada kubur dalam

keadaan mulutnya mengalir darah kerana ketika berniaga, mereka

suka berdusta.

Kelompok kelima (5) pula dalam keadaan lebih buruk daripada

bangkai kerana ketika di dunia, mereka selalu melakukan maksiat

secara sembunyi kerana takut dilihat orang, tetapi tidak takut kepada Allah.

Kelompok keenam (6) akan dibangkitkan dengan keadaan leher

terputus kerana ketika di dunia selalu memberikan kesaksian palsu.

Kelompok ketujuh (7) akan dibangkitkan dalam keadaan tanpa lidah

kerana selalu berdusta ketika di dunia.

Kelompok kelapan (8) akan dibangkitkan daripada kubur dalam keadaan

kepala tersungkur, sedangkan keduadua kakinya di atas kepala dan

farajnya mengeluarkan nanah yang mengalir seperti air kerana ketika hidup

di dunia golongan ini suka berzina dan mati tanpa sempat bertaubat.

Kelompok kesembilan (9) pula dibangkitkan dari kubur dalam keadaan

wajahnya yang hitam tetapi matanya biru dan perutnya dipenuhi api

kerana ketika di dunia dulu mereka selalu memakan harta anak yatim

secara zalim.

Kelompok kesepuluh (10) dibangkitkan dalam keadaan penuh kusta dan

sopak kerana ketika hidup didunia menderhakai kedua orang tuanya.

Kelompok kesebelas (11) akan dibangkitkan dalam keadaan buta hati,

giginya seperti tanduk, bibirnya menjulur sampai ke dada, lidahnya

sampai ke perut manakala perutnya pula menjulur sehingga ke paha,

perutnya penuh dengan kekotoran kerana ketika hidup di dunia mereka

gemar minum arak dan mati sebelum sempat bertaubat.

Bagaimanapun kelompok (12) kedua belas, mereka akan dibangkitkan

daripada kubur dengan wajah bercahaya seperti bulan purnama dan mereka

akan melewati sirat (titian) seperti kilat yang menyambar kerana golongan ini

ketika hidupnya rajin beramal soleh, meninggalkan maksiat dan menjaga solat

lima waktunya dengan berjamaah. Mereka mati dalam keadaan bertaubat,

maka balasannya ialah syurga, pengampunan, rahmat dan nikmat.

 

Senang cerita, Jadilah kelompok manusia yang kedua belas....

Semoga amalan kita diterima oleh ALLAH s.w.t